Hudahoe Instagram Photos and Videos

Loading...


hudahoe Nur Huda @hudahoe mentions
Followers: 589
Following: 520
Total Comments: 0
Total Likes: 0

@30haribercerita #30HBC18 #day18 - Curcol #1. Saya pernah tertinggal kereta jurusan Ibu Kota ...
Media Removed
@30haribercerita #30HBC18 #day18 - Curcol #1. Saya pernah tertinggal kereta jurusan Ibu Kota karena terlambat masuk peron sekitar lima menit. Walaupun ukuran menit, memaksa saya mengejar kereta yang sudah melaju. Tanpa peduli letak gerbong (tiket ada dipegang temen dalam kereta), ... @30haribercerita #30HBC18 #day18
-
Curcol #1. Saya pernah tertinggal kereta jurusan Ibu Kota karena terlambat masuk peron sekitar lima menit. Walaupun ukuran menit, memaksa saya mengejar kereta yang sudah melaju. Tanpa peduli letak gerbong (tiket ada dipegang temen dalam kereta), yang penting masuk saja! Jadi miriplah adegan film Kuch Kuch Hota Hai, ketika Sakh Rukh Khan mengejar Angelina Jolie dalam kereta. Lalu dikasih selendang 😂
-
Curhat #2. Sudah hari ke-18, tapi saya baru menulis delapan tulisan, termasuk tulisan yang ini. Padahal di awal keikutsertaan, saya dengan lantang menantang skeptisme saya tentang menulis online berjamaah.
-
No excuse! Saya tidak hendak berdalih, karena pasti ada kambing hitam di setiap peternakan kambing. Dasar melankolis, saya lebih banyak merenung dan berpikir daripada bertindak. Hasilnya, standar seperti apapun yang saya pasung dalam otak, akhirnya tidak satu pun terealisasi. Puluhan judul tulisan (dengan isi satu bait) tersimpan berserakan dalam barak.
-
Di tengah proses neurotransmiter dalam otak yang lagi sewot, ada satu kata hasil membaca grupnya Kang Dewa Eka Prayoga, yaitu PROKRASTIMASI.
-
Adalah tindakan mengganti tugas berkepentingan tinggi dengan tugas berkepentingan rendah, sehingga tugas penting pun tertunda. Psikolog sering menyebut perilaku ini sebagai mekanisme untuk mencakup kecemasan yang berhubungan dengan memulai atau menyelesaikan tugas atau keputusan apapun.
-
Tiba-tiba elektron dalam otak bergerak rancak. Menolak kenyataan yang duduk manis di depan nurani.
-
Dua curcol di atas adalah sinkronisasi bahwa tanpa alasan kuat, tidak ada satu pun perubahan bisa terjadi. Termasuk menulis. Semoga di sisa Januari ini bisa konsisten nulis dan posting di sini.
-
Tentu, dengan tulisan yang tidak sesampah postingan ini!
Read more
Loading...
DI BALIK BUKU Ada oase kecil muncul dalam hati ketika mendengar buku "Permata dalam Lumpur" bakal ...
Media Removed
DI BALIK BUKU Ada oase kecil muncul dalam hati ketika mendengar buku "Permata dalam Lumpur" bakal di-republish dengan cover dan penerbit berbeda. Di edisi pertama ketika buku ini mengudara di toko buku Gramedia, bertubi-tubi ada kepuasan batin ketika ada pembaca dari Jawa sampai luar ... DI BALIK BUKU

Ada oase kecil muncul dalam hati ketika mendengar buku "Permata dalam Lumpur" bakal di-republish dengan cover dan penerbit berbeda. Di edisi pertama ketika buku ini mengudara di toko buku Gramedia, bertubi-tubi ada kepuasan batin ketika ada pembaca dari Jawa sampai luar Jawa mengirim pesan singkat.

Dalam tulisan hari ini, saya hendak berutur tentang salah satu cerita di balik penyusunan buku ini. Berlatarlokalisasi, tentu gak afdhol kalau kita tidak menulis tentang para mbak-mbak pekerja. Untuk menjaga privasi, sebut saja PSK *eh*. Kita panggil saja Bunga yang rela kita bayar sekian ratus ribu untuk sekian jam untuk ...


Diwawancarai 😀

Singkat cerita, sebuah narasi paradoks hidup berhasil kita gugah dari kisah Bunga. Dari penuturannya, Bunga berusia 33 tahun. Dia masuk ke dunia lokalisasi dari usia 16 tahun, sudah berkeluarga, menjalani profesi atas sepengetahuan suaminya, memiliki dua anak di desa, tarif harian yang fantastis, penghasilan per bulan yang tak kalah menggiurkan untuk ukuran kerja "ringan", dan segala hitam-putih dunia peresek-esekan. Lengkapnya bisa dibaca dalam buku *spoileralert*

Dua orang perjaka mewawancarai Bunga tentu tidak bisa santai. Berbekal pengalaman jadi wartawan, saya bisa menjaga ritme sampai bisa ketawa-ketiwi sambil menguak hal-hal tabu menjadi layak diperbincangkan *eak*

"Asal mbak dari mana?" tanya kita.

"Saya asli Lamongan, Mas," jawabnya singkat.

"Lamongan mana?"

"Babat"

Saya ngakak pol! Sementara @satrianova16 hanya tersenyum tipis. Ternyata, Mbaknya dengan rekan saya itu satu kecamatan, satu kabupaten. Entah kalau mereka tetanggaan tapi tidak saling kenal 😂

Sekian. @30haribercerita #30HBC18 #day17
Read more
M E S O (H) Berapa kali kawan pernah dipisuhi*) oleh orang lain? Sering? Adakah salah satu dari ...
Media Removed
M E S O (H) Berapa kali kawan pernah dipisuhi*) oleh orang lain? Sering? Adakah salah satu dari orang itu adalah teman sendiri? Kalau iya, maka kawan senasib dengan saya Maka bersyukurlah kawan, tentu setelah sakit hati sejenak dan memesohi balik 😎 • Dalam lingkaran pertemanan yang ... M E S O (H)

Berapa kali kawan pernah dipisuhi*) oleh orang lain? Sering? Adakah salah satu dari orang itu adalah teman sendiri? Kalau iya, maka kawan senasib dengan saya 😁

Maka bersyukurlah kawan, tentu setelah sakit hati sejenak dan memesohi balik 😎

Dalam lingkaran pertemanan yang HQQ, keberadaan sosok yang mampu menghadang dan menyungkurkan langkah kita adalah istimewa. Mengapa?

Tidak banyak manusia didunia ini yang pandai meso dengan grammar, makhraj, dan tajwid yang sempurna kecuali orang lahir di Surabaya. Oke, ini alasan ngawur. CTRL+ALT+DEL. Awas, jangan delcon!

Pertama, keberadaan teman yang senang ketika kita bahagia, sedih ketika kita galau, dan tertawa ketika kita menggeje adalah hal-hal umum. Tapi teman yang berani menegurmu dengan keras tentang jalan hidupmu (yang cenderung salah atau tidak efektif) adalah anugerah.

Maka, syukurilah keberadaan dan keberaniannya. Tanpa mereka, bisa jadi jalan hidupmu hanya akan berputar di tempat, atau nyasar semakin menjauh dari tujuan.

Kedua, teman adalah salah satu sarana untuk bermuhasabah. Mengevaluasi diri. Bukan hanya tentang salah-benar atau baik-buruk, tapi juga tentang hubungan sosial, hal-hal sunnah, softskill, resolusi hidup, hobi, dan lainnya.

Mereka adalah orang paling jujur sedunia yang bisa kamu tanyain apa pun. Tak hanya memuji keberhasilannu, tapi borok-borok hidupmu pun bisa dibeber setajam akun lambeturah.

Terakhir, sesuai hukum alam, tidak ada segerombolan manusia yang tidak pernah berkonflik jika sering berinteraksi. Tapi percayalah, konflik, masalah, pertengkaran, bersama dengan ego yang menggunung, semua ada solusinya.

Lalu, pada akhirnya ketika ujian itu terlewat, mereka adalah orang paling dekat secara batin. Dan paling loyal dalam relasi.


*) Pisuh = Mesoh = Dicaci maki dengan bahasa kasar, semacam c*k kalau di Surabaya.

@30haribercerita #30haribercerita @30HBCteman #30HBC18 #day7 #teman
Read more
P U L A N G Mari merantaulah sahabatku agar kita tahu bagaimana rasanya rindu dan kemana kau harus ...
Media Removed
P U L A N G Mari merantaulah sahabatku agar kita tahu bagaimana rasanya rindu dan kemana kau harus pulang --anonim Dua minggu lalu, kami sekeluarga mudik ke kampung halaman. Hampir 14 tahun saya merantau, entah sudah berapa kali saya mudik. Tapi buat para teman seperantauan, jarak sejauh ... P U L A N G

Mari merantaulah sahabatku agar kita tahu bagaimana rasanya rindu dan kemana kau harus pulang --anonim

Dua minggu lalu, kami sekeluarga mudik ke kampung halaman. Hampir 14 tahun saya merantau, entah sudah berapa kali saya mudik. Tapi buat para teman seperantauan, jarak sejauh apa pun akan menjadi nol kilometer untuk urusan ini.

Rumah adalah saksi atas semua kenangan awal hal-hal pertama dalam hidup. Masa kecil semua anak kampung pra-milineal adalah masa membahagiakan di seluruh generasi. Teori ini saya junjung karena anak TK di kampung saya pun sudah terpapar gadget, apalagi para remajanya. Generasi Z merambat bersama jaringan 4G.

Balik ke rumah.

Gambar di atas kami namai "masbai". Buahnya manis jika matang, dan masam saat mentah. Pohonnya tumbuh di sebelah rumah entah berapa puluh tahun lalu. Keberadaannya menghentak memori masa kecil saya.

Buah yang bernama Indonesia murbai (Morus Alba L) menemani mulut saya dari zaman masih ingusan, mainan petak umpet, tempat belajar, menangis dan tertawa, mengambil daunnya untuk makan kambing, menyaksikan ulat jadi kepompong berbalut daunnya, sampai hari itu. Saat saya mengenalkan buahnya ke Denisa 😫

"Hah, itu makanan ular?" itu respon istri saya 🙄. Entah sejak kapan ular berevolusi jadi herbivora 😪

Kedua tentang stiker. Tidak banyak perabot yang dimiliki keluarga di kampung saya. Sekitar 22 tahun lalu saya pernah menempelkan sebuah stiker bertuliskan lafal basmalllah di bagian cermin depan satu-satunya lemari keluarga. Dan, stiker itu masih ada hingga kini! Lewat cermin, sudah jutaan kali saya bercermin.

Dua hal terakhir yang membuat saya bercermin lumayan lama. Sewaktu menjelang berangkat bareng keluarga mau akad nikah. Dan kemarin, lagi-lagi saat mengajak berbicara Denisa. Kejadian-kejadian itu makin mengingatkan bahwa saya b̶e̶r̶w̶a̶j̶a̶h̶ ̶1̶7̶ ̶t̶a̶h̶u̶n̶ SUDAH TUA 😑

Bagian akhir cerita ini adalah tentang "pawon", yang artinya dapur. Tapi di kampung saya, pawon juga kata benda untuk tungku api memasak. Setiap pagi, ibu saya selalu memasak nasi di atas pawon, tidak di LPG.

@30haribercerita #30HBC18 #30haribercerita #day7
Read more
Tidak ada sajak pagi sejak pagi Tidak ada dendang dingin Puisi aksara pun berpuasa Luluh kelelahan Lalu ...
Media Removed
Tidak ada sajak pagi sejak pagi Tidak ada dendang dingin Puisi aksara pun berpuasa Luluh kelelahan Lalu senyap tersenyum Hadirmu membungkam hitam Segera Segara buga mengalirkan bahagia Demi apa? Demikian aku melihatmu Selalu • @30haribercerita #30haribercerita #30HBC18 ... Tidak ada sajak pagi sejak pagi
Tidak ada dendang dingin
Puisi aksara pun berpuasa
Luluh kelelahan

Lalu senyap tersenyum
Hadirmu membungkam hitam
Segera
Segara buga mengalirkan bahagia
Demi apa?
Demikian aku melihatmu
Selalu

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC18 #day6
Read more
BI CARA Di suatu sore yang kering, seorang gadis kecil berlari kecil mendatangi sebuah pohon ...
Media Removed
BI CARA Di suatu sore yang kering, seorang gadis kecil berlari kecil mendatangi sebuah pohon di belakang pekarangan rumahnya. Ia hadir bersama dengan mata nanar, dan hembusan nafas terburu. Ia kesal. Bella, teman mainnya yang lebih tua darinya tidak bersedia meminjami sepedanya. ... BI CARA

Di suatu sore yang kering, seorang gadis kecil berlari kecil mendatangi sebuah pohon di belakang pekarangan rumahnya. Ia hadir bersama dengan mata nanar, dan hembusan nafas terburu. Ia kesal. Bella, teman mainnya yang lebih tua darinya tidak bersedia meminjami sepedanya. Barang sekalipun. Bia hanya melengos pergi dengan teman-temannya. Katanya mau mengaji. Tapi gadis kecil berambut ikal ini tidak suka dengan cara Bella menolaknya.

"Masak dia menolak karena sepedanya masih baru!" teriaknya sambil terisak di bawah pohon. Tidak mau terlihat malu di depan Ibunya, dia meluapkan emosinya dengan bercerita pada pohon yang daunnya mulai meranggas.

Si pohon hanya diam. Tak membalas apa pun. Hanya ada angin sore menyusur sela-sela dahan, dan menjatuhkan satu helai daun tua ke tanah. Tepat di depan kaki si gadis kecil.

Ia pun tesenyum simpul, mengusap air mata dengan bajunya.

******

Hei kawan, kapan terakhir kalian melepas cerita dengan duduk dan mata terasa panas?

Bersyukurlah, minimal jika kamu pernah mengalaminya sekali saja. Menyenangkan bukan? Membagi cerita dari brangkas paling pribadi kita yang paling reyot untuk kita tangisi lalu disyukuri bersama, atau sekedar mengayun-ayun cerita lama bersama luka yang belum mengering.

Setiap kepala pasti ada beban hidup yang menekan dari segala sisi. Pelan-pelan, ada limit dimana manusia butuh dipanggil sebagai makhluk sosial. Kita butuh uluran tangan, sandaran pundak, pelukan hangat, telinga untuk mendengarkan suara kita, dan empati yang mencair bersama dengan kopi-gula di pagi hari.

Duhai pemuja kemandirian akut, longgarkanlah batas privasi kalian. Lihatlah, leher kalian tercekat bukan karena tidak bisa bersuara, tapi kalian mengikatnya terlalu keras. Bercerita bukan kesalahan, bukan sebuah kelemahan.

Konon kata dongeng, bercerita, walaupun dengan pohon seperti cerita di awal, bisa menggugurkan separuh dari masalah kita. Karena bercerita itu hanya butuh didengar, bersama dengan melepaskan beban dicampur air hangat dari kelopak mata.

📷 Air kali, bukan air mata


@30haribercerita #30haribercerita #30HBC18 #day5

Lanjut di komentar
Read more
Loading...
S E T I P Percakapan puluhan tahun lalu. "Apa filosofi hidupmu?" tanya A singkat. Si B berpikir ...
Media Removed
S E T I P Percakapan puluhan tahun lalu. "Apa filosofi hidupmu?" tanya A singkat. Si B berpikir lama. "Dalam ranah sosial, saya cenderung seperti lilin" • "Ada apa dengan lilin?" • "Saya suka membantu orang lain, walaupun belum tentu saya sendiri sudah settle. Kehadiran saya ingin ... S E T I P

Percakapan puluhan tahun lalu. "Apa filosofi hidupmu?" tanya A singkat.

Si B berpikir lama. "Dalam ranah sosial, saya cenderung seperti lilin"

"Ada apa dengan lilin?"

"Saya suka membantu orang lain, walaupun belum tentu saya sendiri sudah settle. Kehadiran saya ingin menerangi jalan hidup orang lain," papar si B mantab.

"Kalau saya justru tidak mau jadi lilin. Gak mau saya melihat orang lain berhasil sementara saya sendiri hancur. Saya ingin berhasil, lalu membantu mereka-mereka untuk turut berhasil pula," tangkasnya.

"Jangan pula ingin jadi seperti setip. Yang mampu menghapus kesalahan dengan mengancurkan diri. Ngapain kita berkorban untuk kesalahan masa lalu? Toh juga tidak semua tulisan bisa disetip," pungkas si C.

"Tuh, ada tulisan pulpen"

@30haribercerita #30haribercerita #day4 #30HBC18 #tulisanabsurd
Read more
She is growing up so fast! Gadis kecilku, selamat 3 Januari pertama. Ayah bersyukur diberikan ...
Media Removed
She is growing up so fast! Gadis kecilku, selamat 3 Januari pertama. Ayah bersyukur diberikan amanah untuk menemani hari-harimu selama setahun ini. Melihat, mengamati dan mengalami semua fase pertamamu. Dari tangisan pertamamu yang membuat ayah sangat bangga, meng-ASI, tengkurapmu, ... She is growing up so fast!

Gadis kecilku, selamat 3 Januari pertama. Ayah bersyukur diberikan amanah untuk menemani hari-harimu selama setahun ini. Melihat, mengamati dan mengalami semua fase pertamamu. Dari tangisan pertamamu yang membuat ayah sangat bangga, meng-ASI, tengkurapmu, MPASI, senyuman manismu, gigi pertamamu, tatapan mata beningmu, langkah pertamamu, hingga sakitmu 🤒

Maaf tidak ada lilin atau hadiah, Nak. Ayah dan bunda hanya mengajak saudara-saudara kita untuk turut mendoakan semua kebaikan atas namamu.


رَبِّ هَبْلِيْ مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاء
• [ Ya Rabbi, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa (hambamu) ]


*) Ada yang pernah sedih melihat anak tumbuh terlalu cepat?
Read more
Loading...
K E J A W E N Kawan, di sela-sela postingan instragram, orang berchit-chat lintas benua, seliweran ...
Media Removed
K E J A W E N Kawan, di sela-sela postingan instragram, orang berchit-chat lintas benua, seliweran berita hoax, wajah Lee Min Ho menenuhi baliho kota, Mobile Legend mengambil alih dunia anak, sampai kegaduhan "Nikahi aku, Fahri", masih bisa kita temukan ihwal absurd bernama kejawan-isme. Misal ... K E J A W E N

Kawan, di sela-sela postingan instragram, orang berchit-chat lintas benua, seliweran berita hoax, wajah Lee Min Ho menenuhi baliho kota, Mobile Legend mengambil alih dunia anak, sampai kegaduhan "Nikahi aku, Fahri", masih bisa kita temukan ihwal absurd bernama kejawan-isme.

Misal kemarin pagi, saya mampir ke budhe yg anaknya sedang studi di London UK bersama dengan anak istrinya. Anak bungsunya sebaya dengan anak saya, Denisa (1 tahun).

"Si A betah di sana, Budhe?"

"Iya betah. Makannya dibuatin Ibunya sendiri, pakai menu kita (Indonesia). Sudah saya bawakan lemahe dulure (tanah yang dipakai memendam plasenti bayi baru lahir) dan jahe. Pas sampai di sana, ditaruh di bawah kasur. Biar anaknya tenang, ada yang menemani"

Saya mengangguk saja. Karena saya sudah sering mendapati barang sejenis di bawah kasur sendiri. Teringat waktu mengubur plasenta itu harus memenuhi SOP level kabupaten (karena beda kabupaten beda SOP): dicuci pakai rinso, dikasih pewangi, ditaruh dalam guci tanah liat berisikan gunting, jarum, garam 1 kg (Kebanyakan! Sumpah!), kain, pulpen dan kertas yang sudah ditulisi (entah tulisan apa). Semua barang itu bukan barang biasa, mereka berfilosofi! Pulpen biar anaknya rajin belajar (menulis). Tapi entah fungsi garam satu kilonya 😅

Juga, di bulan ketiga kelahiran, Denisa pernah terjatuh dari kasurnya. Byor! Segayung air disiram tepat di tempat jatuhnya. Agar balaknya (pembawa sial) hilang. Jangan lupa dipel setelah itu, karena lantai licin juga bisa menyebabkan orang jatuh.

Pernah di suatu pagi yang cerah, saya menemukan banyak jahe berceceran di lantai dari pagar depan sampai dapur. Ternyata malam sebelumnya, Denisa rewel menjelang tidur. Jadi ditaburlah jahe gejrot ke seluruh ruangan sebagai "wahana pengusir".

"Emang 'mereka' itu gak suka jahe?" tanya istri saya.

"Kalau suka, jahe kita pasti habis," jawabku santai.

Terakhir tentang sisir rambut. Balita yang belum tumbuh semua giginya tidak boleh disisir rambutnya. Kenapa? Karena bisa menyebabkan pertumbuhan gigi yang tidak teratur/bolong. Kami hanya bisa tersenyum simpul manis.

#day3 #30haribercerita @30haribercerita #30HBC18
Read more
Membaca Buku Buku apa yang sedang dalam proses kamu baca? Pertanyaan harian yang melintasi kepala ...
Media Removed
Membaca Buku Buku apa yang sedang dalam proses kamu baca? Pertanyaan harian yang melintasi kepala setiap pagi. Tulisan ini adalah hasil dialog saya dengan diri sendiri. Bermuhasabah. Di era milenia sekarang ini, hambatan utama untuk membaca buku adalah internet dalam gawai. Hanya ... Membaca Buku

Buku apa yang sedang dalam proses kamu baca? Pertanyaan harian yang melintasi kepala setiap pagi. Tulisan ini adalah hasil dialog saya dengan diri sendiri. Bermuhasabah.

Di era milenia sekarang ini, hambatan utama untuk membaca buku adalah internet dalam gawai. Hanya dengan satu genggaman, semua arus informasi di bawah atap langit mengalir deras up to date. Kita tidak akan ketinggalan informasi apa pun di belahan bumi mana pun.

Sementara buku jelas isinya lebih lambat dari tulisan gawai. Diproses berbulan/tahunan oleh penulis, dan butuh waktu lebih lama untuk membaca keseluruhan isinya. Dibading tulisan online, yang rata-rata hanya 2-5 menitan saja per postingan.

Jadi dalam satu jam bergawai, mata memang mampu membaca jumlah kata yang sama antara buku atau tulisan online. Memang seolah nampak lebih produktif.

Tapi nyatanya, otak tertatih-tatih ketika dipaksa meloncat dari bahasan politik, loncat ke tulisan pluralisme, lari ke info travelling, koprol ke budaya, kayang ke tulisan indepth, dan berputar-putar ke informasi perghibahan. Rasanya, otak seperti habis diajak masuk labirin tanpa celah, dan tiba-tiba game berhenti. Mata kembali membelalak dunia nyata.

Efeknya berdomino. Mata lelah menangkal radiasi dari layar, pikiran kelelahan menyerap informasi. Hasrat membaca buku tiarap pelan-pelan, hingga buku di depan mata pun menjadi tak menarik.

Bingo! Tiba-tiba 2017 sudah selesai. Salah satu tahun paling buruk dalam hal membaca buku!

Saya pernah mengalami fase epifani (silahkan digugel artinya), saat membaca buku berjudul Edensor-nya Andrea Hirata, Akar-nya Dewi Lestari dan Selimut Debu-nya Agustinus Wibowo. Sampai hasrat membaca mendadak menggelora seketika. Saya mampu membaca hingga 4-7 judul buku per bulan aneka genre. Apalagi buku-buku favorit saya biasanya berseri-seri, jadi tingkat kekepoannya melonjak otomatis. Di tengah kesibukan apa pun, saya masih bisa menjaga ritme minimal 1 buku per bulan.

Tapi itu dulu, di saat internet masih memakai GPRS/2G dengan tarif yang luar biasa mahal 😂

...lanjut ke kolom komentar...

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC18

*) foto sangat lama dan tidak relevan 😅
Read more
HORISON • Hanya sebatas garis imajiner, tapi mampu memukau siapa saja. Sekeping ide bisa menyeruak ...
Media Removed
HORISON • Hanya sebatas garis imajiner, tapi mampu memukau siapa saja. Sekeping ide bisa menyeruak bebas hanya karena satu garis saja. Sebuah masterpiece dapat terlahir dari gugusan pagi dan gunung. Seruas rindu, mampu terketuk hanya dari bias lukisan alam. • Sefana itu, isi kepala ... HORISON

Hanya sebatas garis imajiner, tapi mampu memukau siapa saja. Sekeping ide bisa menyeruak bebas hanya karena satu garis saja. Sebuah masterpiece dapat terlahir dari gugusan pagi dan gunung. Seruas rindu, mampu terketuk hanya dari bias lukisan alam.

Sefana itu, isi kepala manusia mengangguk. Pelan. Mereka menyukai keabsurdan seisi dunia ini. Hal-hal di luar jangkauan tangannya. Lalu ditenun dalam kepalanya dengan girang. Seolah dunia akan turut bahagia dengan riuhan tawanya.

Hingga imaji itu liar.

Dophamin sudah membanjiri seluruh udara.

Waktu menatapnya gamang.

Garis realita telah kembali. Menatap ulang, lalu menamparnya. Apa yang nampak dalam horison hanyalah ensitas yang disadarinya jika itu pasti tidak nyata. Hanya timbul-tenggelam dalam angannya. Tanpa mampu dijangkau dalam karsanya.



Tulisan ini tersentil dari kenyataan dalam diri saya (curhatan), bahwa saya terlalu sering mengamati, menikmati, dan memikirkan sesuatu yang tidak akan berdampak apapun pada diri saya pribadi atau pun orang lain. Seperti, scrolling timeline 😅

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC18
Read more
Mulai 1 Januari 2018 saya akan rutin 30 hari ngeblog di Instagram ini. Niatnya cuman karena saya ...
Media Removed
Mulai 1 Januari 2018 saya akan rutin 30 hari ngeblog di Instagram ini. Niatnya cuman karena saya percaya sama adigum "MENULIS MENJAGA KITA DALAM KEWARASAN". • Ikutan juga yuk! @30haribercerita #30haribercerita #30HBC18 Mulai 1 Januari 2018 saya akan rutin 30 hari ngeblog di Instagram ini. Niatnya cuman karena saya percaya sama adigum "MENULIS MENJAGA KITA DALAM KEWARASAN".

Ikutan juga yuk! @30haribercerita #30haribercerita #30HBC18
Loading...
Loading...
Loading...

Loading...